ANALISIS USAHATANI BAWANG MERAH (STUDI KASUS DI DESA BULO-BULO KECAMATAN ARUNGKEKE KABUPATEN JENEPONTO)

  • ZELVIYANI SP ZELVIYANI DINAS PERTANIAN KABUPATEN JENEPONTO
Keywords: Bawang merah, usahatani, pendapatan, biaya

Abstract

Abstract. Shallots have a great business opportunity because they are widely used for cooking spices and medicines so that they support farmers' income even though the price is not fixed. Before the farming process, planning is needed by calculating income and expenses as an initial attitude in doing farming. The purpose of this study was to determine the income and feasibility level of shallot farming. This research was conducted in Bulo-Bulo Village, Arungkeke District, Jeneponto Regency in January 2022. The analysis technique uses quantitative descriptive methods so that the data is easier to read. In the study in Bulo-Bulo Village, a total land area of 1 ha owned by 10 farmers required a cost of Rp. 28,680,000 and get a result of Rp. 80,000,000. The amount of production received is supported by not too much rainfall, good cropping techniques, appropriate fertilizing and post-harvest processes. The profit earned is Rp. 51,320,000 and an R/C ratio of 3, meaning that the value is greater than 1, which means that shallot farming is feasible to develop. BEP price of Rp. 3,585/Kg and Production BEP of 2,868 ha, meaning that this value indicates that farmers in Bulo-Bulo Village are at a profit point and are not at a loss to gain profits and can be developed further. The author suggests that for the next planting before planning a farm to enter a request for assistance for shallot seeds so that it can reduce the production costs incurred.

 

Abstrak. Bawang merah memiliki peluang usaha yang besar Karena banyak digunakan untuk bumbu masakan dan obat sehingga mendukung pendapatan petani walaupun harga tidak tetap. Sebelum proses usahatani diperlukan perencanaan dengan menghitung pendapatan dan pengeluaran sebagai awal sikap dalam melakukan usahatani. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besar pendapatan dan  tingkat kelayakan pertanaman usahatani bawang merah. Penelitian ini di lakukan di Desa Bulo-Bulo Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto pada bulan Januari tahun 2022. Teknik Analisis menggunakan metode deskriptif kuantitatif sehingga data tersebut lebih mudah dibaca. Pada peneltian di Desa Bulo-Bulo total luas lahan 1 ha yang dimiliki 10 petani membutuhkan biaya Rp. 28.680.000 dan mendapatkan hasil sebesar Rp. 80.000.000. Banyaknya hasil produksi yang diterima karena didukung oleh curah hujan yang tidak terlalu banyak, teknik pertanaman yang baik, pemupukan yang sesuai takaran dan proses pasca panen. Keuntungan yang didapat Rp. 51.320.000 dan R/C ratio sebesar 3 artinya nilainya lebih besar dari 1 yang berarti usahatani bawang merah layak untuk dikembangkan. BEP harga senilai Rp. 3.585/Kg dan BEP Produksi senilai 2.868 ha artinya nilai tersebut menunjukkan petani di Desa Bulo-Bulo berada di titik untung dan tidak rugi memperoleh keuntungan dan bisa dikembangkan selanjutnya. Penulis menyarankan agar untuk pertanaman selanjutnya sebelum merencanakan usahatani untuk memasukkan permohonan bantuan bibit bawang merah sehingga dapat meringankan biaya saprodi yang dikeluarkan.

Published
2022-04-13
Section
Articles